events and celebrations

Hubungan Reflektif

Akhir april kemarin, saya berkesempatan mengikuti salah satu kelas dari @keluargakitaID yang digagas oleh @arninta. Sesi yang saya ikuti bertemakan Hubungan Reflektif. Yang menjadi topik pembicaraan dalam kelas ini adalah seputar:
1. Mengatasi perbedaan pola asuh
2. Pengelolaan emosi
3. Manajemen waktu
4. Komunikasi keluarga dan penerapan i-Message
5. Menangani konflik dalam keluarga

Saya banyak banget dapat pelajaran dari kelas ini yang mungkin saya bisa rangkum dalam poin-poin dibawah:
1. Dalam prinsip hubungan reflektif, kualitas hubungan apapun perlu dijaga dengan cara berinteraksi dengan baik seperti kuantitas pertemuan, memberikan apresiasi dan empati.

2. Setiap orang memiliki keunikan temperamen yang mempengaruhi perilaku dan bagaimana orang bereaksi atas sesuatu. Nah, menerima temperamen tiap anggota keluarga dan saling bantu dalam mengelola temperamen adalah salah satu kunci keberhasilan hubungan dalam keluarga.

3. Untuk manajemen waktu, sebagai orang tua harus sensitif pada kebutuhan anak karena kita adalah primary care giver bagi mereka. Juga harus sensitif akan kebutuhan diri sendiri. Selain itu kualitas dan kuantitas waktu. Kualitas hubungan tidak akan tercapai tanpa kuantitas interaksi yang cukup. Jadi kalau misalnya waktu bermain dengan anak itu harus sepenuh hati dan sepenuh tubuh. Duhh ini nih saya juga kadang lagi main sama anak terus colongan sambil liat-liat socmed. Nah disini dibagikan tips mengukur waktu:
– aktivitas apa yang dianggap penting dan mendesak
– berapa banyak waktu yang tersisa
– berapa lama waktu yang sengaja dihabiskan bersama anak
– berapa lama online di dunia digital
– berapa banyak untuk hal lain: keluarga besar, teman, pekerjaan, hobi dan diri sendiri.
Kalau kita bisa mengukur dan menerapkan tips diatas, akan membantu kita berefleksi apa dalam keseharian kita telah memprioritaskan keluarga.

4. Yang ini poin yang paling penting buat saya karena punya anak toddler yaitu pengelolaan emosi. Saya masih harus banyak belajar mengelola emosi karena saat sedang emosi biasa orang tua merespons kebutuhannya sendiri bukan merespons pada kebutuhan dan pengalaman belajar untuk anak. Pada akhirnya anak akan meniru cara orang tua mengekspresikan emosi. Ketika sedang emosi, pilih cara yang tepat dalam berkomunikasi, seperti refleksi pengalaman, menyatakan observasi, menunjukkan empati, memberikan pilihan dan antisipasi.

5. Dalam komunikasi yang baik, biasakan untuk menerapkan i-massage. Panduannya adalah memilih kalimat saya merasa – saat – saya ingin – karena. Mungkin bisa di googling bagaimana cara penerapannya dan untuk terbiasa menggunakan i-message ini diperlukan latihan yang baik agar komunikasi efektif bisa tercapai.

6. Konflik adalah hal yang tidak bisa kita hindari dan sejujurnya pada anak sendiri konflik yang positif juga dibutuhkan dalam tumbuh kembangnya. Di dalam keluarga juga kita akan menghadapi konflik dan disini saya belajar bagaimana meresponsnya.

Yang menarik adalah setiap selesai satu topik obrolan, kita dikasih lembar evaluasi sebagai latihan. InsyaAllah kalau ada kelas lagi di hari libur saya akan menyempatkan diri untuk ikut 🙂

image

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s